Masyarakat Perkotaan dan Masyarakat Pedesaan Judul : hujan “emas” di kota orang hujan “batu” di kota sendiri ..


Image

Mungkin anda sering mendengar kata dari judul diatas, yaa benar sekali kalimat itu adalah  peribahasa yang tersohor. Pribahasa  daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri adalah bagaimanapun enak atau senangnya hidup dinegeri orang, masih lebih senang hidup dinegeri sendiri.

Ada kutipan dari seorang teman “.. daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan berlian di negeri sendiri” menurutku itu bukan sekedar ngawur, tapi itulah yang terlintas di benak teman saya ketika salah seorang teman dekat saya resign dari kantor tempat kami bekerja, “.. daripada hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan berlian di negeri sendiri”
Adalah baik memang untuk setiap kita, terutama kita yang masih muda untuk mengejar mimpi2 kita. Dan sudah bukan rahasia lagi, nilai rupiah dan jabatan merupakan salah satu tolok ukur generasi kami untuk menakar kesuksesan. Untuk sebuah kata yang bernama ‘prestige’ .. banyak dari kami yang yang telah ‘mengembara’ mencari kemapanan karier.

Misal saja, bukan rahasia lagi bahwa untuk mendapat pekerjaan mapan di kota metropolitan akan jauh lebih mudah daripada di kota yang lebih kecil lainnya (misalnya saja Jogjakarta). Itu pula yang mendorong ratusan putra terbaik daerah berangkat ke Jakarta setiap tahunnya. Tetapi pertanyaannya sekarang adalah, apakah akan selalu begitu? Apakah bekerja sukses itu harus selalu ke Jakarta?

Jawaban saya pastilah ‘TIDAK’. Ada beberapa alasan saya untuk mengatakan ‘TIDAK’. Yang pertama adalah, jika semua putra terbaik daerah berangkat ke kota besar untuk menjadi sukses, lalu siapakah yang akan membangun daerah tsb? Metropolitan akan selalu mendapatkan gemerlapnya, jika semua putra terbaik daerah membangun satu kota yang bernama ‘Jakarta’ itu. Padahal jika sebagian saja dari mereka mau tinggal di daerahnya untuk membangun daerahnya, alangkah indahnya … Saya selalu salut pada teman2 saya yang tetap mau tinggal di daerahnya, atau setidaknya pulang ke daerahnya untuk membangun daerahnya.

Alasan kedua saya mengatakan tidak adalah karena saya yakini bahwa kesuksesan itu tidak hanya bergantung pada tempat bekerja kita, namun juga doa dan usaha kita. Saya selalu membayangkan, pastilah akan sangat memuaskan jika dapat membawa sebuah perusahaan lokal menjadi sebuah perusahaan nasional atau bahkan internasional yang disegani. Bukankan sesuatu yang besar selalu bermula dari yang kecil?

Jadi, siapa bilang sukses itu hanya ada di Jakarta? Bagaimana dengan penjual bakmi jawa di Jogja yang selalu bisa membeli mobil2 Eropa keluaran terbaru dari usahanya menjual bakmi tiap malam? .. atau seorang pengrajin Kasongan yang kesehariannya masih memakai sarung dan menghisap tembakau lintingan, namun selalu sukses dalam setiap pamerannya di Amsterdam, Sydney, London, Paris, dst, … bahkan setiap bulan containernya selalu berangkat ke Eropa untuk memenuhi pesanan.

            Nah, untuk itu kenapa yaa tidak kita usahakan saja mendapatkan yang lebih baik ditempat sendiri daripada mengharapkan yang baik ditempat lain “hujan berlian di kota sendiri daripada hujan emas di kota orang..”

 

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s